This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 09 November 2012

Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat


Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

                       



Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi 'alad diinik...
Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi 'alad da'watik...

Love is a give (Cinta adalah berkah)...
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)...
Cinta 4JJI yang membuat bumi ada...
Cinta 4JJI yang membuat sang surya bersinar...
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman...
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana...
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima...

Mirip seperti itulah hakikat menjadi da'i...
Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi da'wah...
Dia selalu memberi untuk Islam,tanpa mengharapkan menerima untuk setiap kerja da'wahnya...
Itulah ikhlash...
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah...
Siap mengeluarkan uang untuk da'wah...
Siap mengeluarkan tenaga untuk da'wah...

Ana teringat kata Ust. Darlis:
Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis da'wah adalah seperti saudara...
Cukup sampai disana...
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader
(SIMPATI : SIMPan dAlam haTI)...
Kecuali 4JJI memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan setengah agamanya...

Jika 4JJI telah menentukan jodoh untuk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo...?
Masih panjang langkah da'wah kita...
Masih begitu banyak lahan da'wah yang belum kita jamah...
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh...
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji 4JJI pada kita...
Jangan sampai da'wah kita berpenyakit hanya karena masalah ini...
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
Bila sampai ada aktivis da'wah yang terjangkiti
hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)...

Da'wah adalah sesuatu yang suci...
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)...
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)...

Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya...
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab...

Dia beraksi dan berdemonstrasi untuk menyuarakan yang haq
didepan penguasa yang zholim (HR Bukhori Muslim)...

Bukan ingin ketenaran...
Dia berda'wah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya...

Ingat ikhwan wa akhwat fillah,
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:
Untuk ikhwan...
Bila anda istiqomah di jalan da'wah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti...
Untuk Akhwat...
Bila anda istiqomah di jalan da'wah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang
ada di syurga...

Kebenaran hakiki hanya milik 4JJI...
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan...


Peranan Orang Tua Dalam Memilih Akhwat/Ikhwan

Peranan Orang Tua Dalam Memilih Akhwat/Ikhwan

Proses seorang aktivis Islam (ikhwah) dalam proses pencarian seorang istri/suami.
Sejauh manakah peranan Orang Tua (Ortu)dalam hal ini ?
Bolehkan sang calon dipertemukan dengan cara datang kerumah untuk ajang berta'aruf dengan Ortu ?
Atau adakah standar baku dalam proses pernikahan seorang ikhwan/akhwat ?


Sebenarnya dalam urusan fiqih dan syariah, tidak hal yang membedakan antara peraturan yang berlaku untuk seorang muslim pada umumnya dengan para aktifis dakwah. Tata cara dan aturan yang berlaku bagi para aktifis dakwah sama saja buat semua orang Islam dan begitu juga sebaliknya.
Kalau pun ada yang berbeda, maka sebenarnya dalam masalah urf atau kebiasaan yang berkembang pada suatu masyarakat. Dan perbedaan ini bukanlah hal yang membedakan antara aktifis dakwah dan masyarakat umumnya. Para aktifis dakwah itu bukanlah kelompok khusus yang memiliki syariat tersendiri. Mereka adalah bagian dari umat Islam, tidak ada hukum yang membedakan antara mereka dan bagian lain dari umat ini dalam urusan syariat Islam.
Adanya murabbi yang sering kita dengar atau terkesan lebih menentukan ketimbang orang tua adalah bukan hal yang sepenuhnya benar. Karena secara syariah, biar bagaimanapun orang tua adalah pihak yang paling berhak dan paling menentukan dalam urusan jodoh anaknya. Sedangkan murabbi hanyalah orang yang ikut berperan dalam masalah kebaikan madunya.
Dan idealnya, sosok murabbi tidak mengambil alih urusan pernikahan seorang anak dari wilayah kekuasaan orang tua, apalagi melangkahi dengan bertindak sebagai pengatur dan penentu satu-satunya. Karena posisi seorang mad’u di hadapan murabbi bukanlah sebagai penguasa tunggal yang menentukan merah hitamnya jalan ke depannya. Sebaliknya, idealnya seorang murabbi bekerjasama dengan orang tua dalam memandu, mengarahkan dan memberikan pendidikan Islam.
Karena itu sejak dini ketika mulai berbicara tentang masalah perjodohan dan pernikahan, seorang aktifis berbicara kepada keduanya, baik orang tuanya ataupun murabbinya. Sama sekali tidak salah kalau sebagai orang tua beliau ingin lebih dominan dan lebih menentukan masalah anaknya dari pada orang lain. Walaupun murabbinya sendiri. Dan dalam hal ini seorang murabbi yang cerdas seharusnya paham, maka yang dilakukannya justru melakukan pendekatan dengan cara yang sebaik-baiknya dengan tidak memaksakan hal yang sebenanrya tidak prinsipil dalam syariat Islam.
Tidak pernah ada peraturan kalau seorang akrifits diharamkan menikah dengan selain aktifis. Kalau pun ada, maka lebih merupakan anjuran yang berdasarkan maslahat-maslahat yang logikanya bisa diterangkan dengan mudah di depan keluarga, sehingga semua pihak bisa lebih memahami. Bukan dengan main kucing-kucingan atau tarik-menarik yang hanya akan menimbulkan masalah baru.
Juga bukan pada tempatnya memaksakan gaya walimah tertentu yang seakan-akan dianggap ciri khas dan paling islami, padahal para ulama sendiri masih berbeda pendapat dalam hukumnya. Mengapa harus memaksanakan diri dan bertabrakan dengan apa yang berlaku di tengah masyarakat padahal yang kita anggap sebagai sesuatu yang paling islami, belum tentu disepakati oleh jumhurul ulama.
Dari sisi seperti ini tentunya menjadi penting bagi para murabbi untuk lebih memperdalam pemahaman syariah dan meluangkan waktu untuk duduk dengan tekun, mengaji dan mempelajari kandungan syariat Islam secara serius. Apalagi kalau masih belum menguasai bahasa arab dan cabang- cabang ilmu ke-Islaman lainnya. Hal ini penting agar para aktifis dakwah tidak terlalu mudah memfatwakan hal-hal yang sebenarnya tidak prinsipil. Dan juga tidak melakukan yang merugikan jalan dakwah hanya karena kedangkalan ilmu syariahnya.

Keyakinan Ashhabul Hadits Tentang Sifat-Sifat Allah

KEYAKINAN ASHHABUL HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

[Syaikh Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni berkata]: Semoga Allah melimpahkan taufiq. Sesungguhnya Ashhabul Hadits (yang berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah) -semoga Allah menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati mereka yang telah wafat- adalah orang-orang yang bersaksi atas keesaan Allah, dan bersaksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. 

Mereka mengenal Allah subhanahu wata'ala dengan sifat-sifatnya yang Allah utarakan melalui wahyu dan kitab-Nya, atau melalui persaksian Rasul-Nya shallallahu'alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih yang dinukil dan disampaikan oleh para perawi yang terpercaya.

Mereka menetapkan dari sifat-sifat tersebut apa-apa yang Allah tetapkan sendiri dalam Kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallamshallallahu `alaihi wa sallam. Mereka tidak meyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menyatakan bahwa Allah menciptakan Adam 'alaihissalam dengan tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur'an: "Allah berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ....
"Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. (Shaad:75)

Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah dari maksudnya-maksud sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau kekuatan, seperti yang dilakukan oleh Mu'thazilah dan Jahmiyyah -semoga Allah membinasakan mereka-.

Mereka juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakan dengan tangan-tangan makhluk, seperti yang dilakukan oleh kaum Al-Musyabbihah -semoga Allah menghinakan mereka-. Allah subhanahu wa ta'ala telah memelihara Ahlus Sunnah dari menyimpangkan,  mereka-reka atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya. Allah telah memberi karunia atas diri mereka pemahaman dan pengertian, sehingga mereka mampu meniti jalan mentauhidkan dan mensucikan Allah 'azza wa jalla. Mereka meninggalkan ucapan-ucapan yang bernada meniadakan, menyerupakan dengan makhluk. Mereka mengikuti firman Allah azza wa jalla:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ  
"tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Asy-Syuraa:11)

Al-Qur'an juga menyebutkan tentang "Dua tangan-Nya" dalam firman-Nya:

خَلَقْتُ بِيَدَيَّ 
"..yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.. " (Shaad:75)

Dan diriwayatkan dalam banyak hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyebutkan tangan Allah, seperti kisah perdebatan Musa dengan Adam 'alaihimas salam, tatkala Musa berkata:

"Allah telah menciptakan dirimu dengan tangan-Nya dan membuat para malaikat bersujud kepadamu" (HR. Muslim)