This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 19 September 2012

Islam Secara Kaffah


"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu."
(Qs. al-Baqarah 2:208)
Ayat diatas merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad selaku nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah atau secara keseluruhan, benar-benar, sungguh-sungguh.
Apa maksudnya ?
Pengalaman telah mengajarkan kepada kita, betapa banyaknya manusia-manusia yang mengaku telah beriman kepada Allah, mengaku meyakini apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan dia juga mengaku beragama Islam akan tetapi pada hakekatnya mereka tidaklah Islam.
Islam hanya dijadikan topeng, cuma sekedar pajangan didalam KTP yang sewaktu marak aksi demonstrasi dipergunakan sebagai tameng didalam menindas orang-orang yang lemah, melakukan aniaya terhadap golongan minoritas serta tidak jarang dijadikan sarana untuk menipu rakyat banyak.
Allah tidak menghendaki Islam yang demikian.
Islam adalah agama kedamaian, agama yang mengajarkan Tauhid secara benar sebagaimana ajaran para Nabi dan Rasul serta agama yang memberikan rahmat kepada seluruh makhluk sebagai satu pegangan bagi manusia didalam menjalankan tugasnya selaku Khalifah dimuka bumi.
Dalam surah al-Baqarah 2:208 diatas, Allah memberikan sinyal kepada umat Islam agar mau melakukan intropeksi diri, sudahkah kita benar-benar beriman didalam Islam secara kaffah ?
Allah memerintahkan kepada kita agar melakukan penyerahan diri secara sesungguhnya, lahir dan batin tanpa syarat hanya kepada-Nya tanpa diembel-embeli hal-hal yang bisa menyebabkan ketergelinciran kedalam kemusryikan.
Bagaimanakah jalan untuk mencapai Islam Kaffah itu sesungguhnya ?
al-Qur'an memberikan jawaban kepada kita :
"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, padahal kamu mengerti."
(Qs. al-Anfaal 8:20)
Jadi Allah telah menyediakan sarana kepada kita untuk mencapai Islam yang kaffah adalah melalui ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya serta tidak berpaling dari garis yang sudah ditetapkan.
Taat kepada Allah dan Rasul ini memiliki aspek yang sangat luas, akan tetapi bila kita mengkaji al-Qur'an secara lebih mendalam lagi, kita akan mendapati satu intisari yang paling penting dari ketaatan terhadap Allah dan para utusan-Nya, yaitu melakukan Tauhid secara benar.
Tauhid adalah pengesaan kepada Allah.
Bahwa kita mengakui Allah sebagai Tuhan yang Maha Pencipta yang tidak memiliki serikat ataupun sekutu didalam zat dan sifat-Nya sebagai satu-satunya tempat kita melakukan pengabdian, penyerahan diri serta ketundukan secara zhohir dan batin.
Seringkali manusia lalai akan hal ini, mereka lebih banyak berlaku sombong, berpikiran picik laksana Iblis, hanya menuntut haknya namun melupakan kewajibannya. Tidak ubahnya dengan orang kaya yang ingin rumahnya aman akan tetapi tidak pernah mau membayar uang untuk petugas keamanan.
Banyak manusia yang sudah melebihi Iblis.
Iblis tidak pernah menyekutukan Allah, dia hanya berlaku sombong dengan ketidak patuhannya untuk menghormati Adam selaku makhluk yang dijadikan dari dzat yang dianggapnya lebih rendah dari dzat yang merupakan sumber penciptaan dirinya.
Manusia, telah berani membuat Tuhan-tuhan lain sebagai tandingan Allah yang mereka sembah dan beberapa diantaranya mereka jadikan sebagai mediator untuk sampai kepada Allah. Ini adalah satu kesyirikan yang besar yang telah dilakukan terhadap Allah.
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah, juga terhadap al-Masih putera Maryam; padahal mereka tidak diperintahkan melainkan agar menyembah Tuhan Yang Satu; yang tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Qs. al-Baraah 9:31)
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa'atan, namun mereka berkata: "Mereka itu penolong-penolong kami pada sisi Allah !". Katakanlah:"Apakah kamu mau menjelaskan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit-langit dan dibumi ?" ; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."  (Qs. Yunus 10:18)
Penyakit syirik ini dapat mengenai dan menyertai siapa saja, tidak terkecuali didalam orang-orang Islam yang mengaku bertauhid. Untuk itulah Allah memberikan perintah internal kepada umat Muhammad ini agar sebelum mereka melakukan Islamisasi kepada orang lain, dia harus terlebih dahulu mengIslamkan dirinya secara keseluruhan alias Kaffah dengan jalan mentaati apa-apa yang sudah digariskan dan dicontohkan oleh Rasul Muhammad Saw sang Paraclete yang agung, Kalky Authar yang dijanjikan.
Bagaimana orang Islam dapat melakukan satu kesyirikan kepada Allah, yaitu satu perbuatan yang mustahil terjadi sebab dia senantiasa mentauhidkan Allah ?
Sejarah mencatatkan kepada kita, berapa banyak orang-orang Muslim yang melakukan pemujaan dan pengkeramatan terhadap sesuatu hal yang sama sekali tidak ada dasar dan petunjuk yang diberikan oleh Nabi.
Dimulai dari pemberian sesajen kepada lautan, pemandian keris, peramalan nasib, pemakaian jimat, pengagungan kuburan, pengkeramatan terhadap seseorang dan seterusnya dan selanjutnya.
Inilah satu bentuk kesyirikan terselubung yang terjadi didalam diri dan tubuh kaum Muslimin kebanyakan.
Mereka lebih takut kepada si Roro Kidul ketimbang kepada Allah, mereka lebih hormat kepada kyai ketimbang kepada Nabi. Mereka lebih menyukai membaca serta mempercayai isi kitab-kitab primbon dan kitab-kitab kuning yang bertuliskan arab gundul ketimbang membaca dan mempercayai kitab Allah, al-Qur'anul Karim.
Adakah orang-orang yang begini ini disebut sebagai Islam yang kaffah ?
Sudah benarkah cara mereka beriman kepada Allah ?
Saya yakin, kita semua membaca al-Fatihah didalam Sholat, dan kita semua membaca :
"Iyyaka na'budu waiyya kanasta'in"
Yang artinya :
"Hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah (ya Allah) kami memohon pertolongan"
Atau juga :
"U diemen wij en U smeeken wij om hulp"
Yang berarti :
"THEE alone do we worship and THEE alone do we implore for help".
Ayat ini berindikasikan penghambaan kita kepada Allah dan tidak memberikan sekutu dalam bentuk apapun sebagaimana juga isi dari surah al-Ikhlash :
"Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun."
(Qs. al-Ikhlash 112:1-4)
"Zeg: Hij, Allah is Een; Allah is Hij, van Wien alles afhangt; Hij baart niet, noch is Hij geebard; En niemand is Hem gelijk."
(Qur'an al-Ichlas het 112de: 1-4)
Hanya sayangnya, manusia terlalu banyak yang merasa angkuh, pongah dan sombong yang hanyalah merupakan satu penutupan dari sifat kebodohan mereka semata sehingga menimbulkan kezaliman-kezaliman, baik terhadap diri sendiri dan juga berakibat kepada orang lain bahkan hingga kepada lingkungan.
Untuk mendapatkan kekayaan, kedudukan maupun kesaktian, tidak jarang seorang Muslim pergi kedukun atau paranormal, memakai jimat, mengadakan satu upacara ditempat-tempat tertentu pada malam-malam tertentu dan di-ikuti pula dengan segala macam puasa-puasa tertentu pula yang tidak memiliki tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.
Apakah mereka-mereka ini masih bisa disebut sebagai seorang Islam yang Kaffah ? Dengan tindakan mereka seperti ini, secara tidak langsung mereka sudah meniadakan kekuasaan Allah, mereka menjadikan semuanya itu selaku Tuhan-tuhan yang berkuasa untuk mengabulkan keinginan mereka.
"Dan sebagian manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman adalah amat sangat cintanya kepada Allah."
(Qs. Al-Baqarah 2:165)
Kepada orang-orang seperti ini, apabila diberikan peringatan dan nasehat kepada jalan yang lurus, mereka akan berubah menjadi seorang pembantah yang paling keras.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."
(Qs. al-Kahf 18:54)
"Tidakkah engkau pikirkan orang-orang yang membantah tentang kekuasaan-kekuasaan Allah ? Bagaimana mereka bisa dipalingkan ?"
(Qs. al-Mu'min 40:69)
Orang-orang sekarang telah banyak yang salah pasang ayat, mereka katakan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah suatu kesyirikan melainkan satu usaha atau cara yang mesti ditempuh sebab tanpa usaha Tuhan tidak akan membantu.
Memang benar sekali, tanpa ada tindakan aktif dari manusia, maka tidak akan ada pula respon reaktif yang timbul sebagai satu bagian dari hukum alam sebab-akibat. Akan tetapi, mestikah kita mengaburkan akidah dengan dalil usaha ?
Anda ingin kaya maka bekerja keras dan berhematlah semampu anda, anda ingin mendapatkan penjagaan diri maka masukilah perguruan-perguruan beladiri, anda ingin pintar maka belajarlah yang rajin begitu seterusnya yang pada puncak usaha itu haruslah dibarengi dengan doa kepada Allah selaku penyerahan diri kepada sang Pencipta atas segala ketentuan-Nya, baik itu untuk ketentuan yang bagus maupun ketentuan yang tidak bagus.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(Qs. al-Baqarah 2:216)
"Yang demikian itu adalah nasehat yang diberikan terhadap orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, karena barang siapa berbakti kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan bagi mereka satu pemecahan; dan Allah akan mengaruniakan kepadanya dari jalan yang tidak ia sangka-sangka; sebab barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadi pencukupnya. Sesungguhnya Allah itu pelulus urusan-Nya, sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu."
(Qs. at-Thalaq 65:2-3)
Bukankah hampir semua dari kita senantiasa hapal dan membaca ayat dibawah ini dalam doa iftitahnya ?
"Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian makhluk, tiada serikat bagi-Nya, karena begitulah aku diperintahkan."
(Qs. al-An'aam 6:162-163)
Anda membutuhkan perlindungan dari segala macam ilmu-ilmu jahat, membutuhkan perlindungan dari orang-orang yang bermaksud mengadakan rencana yang jahat dan keji, maka berimanlah anda secara sungguh-sungguh kepada Allah dan Rasul-Nya, InsyaAllah, apabila anda benar-benar Kaffah didalam Islam, Allah akan menepati janji-Nya untuk memberikan Rahmat-Nya kepada kita.
"Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat."
(Qs. Ali Imran 3:132)
Rahmat Allah itu tidak terbatas, Rahmat bisa merupakan satu perlindungan, satu pengampunan, Kasih sayang dan juga bisa berupa keridhoan yang telah diberikan-Nya kepada kita.
Apakah anda tidak senang apabila Tuhan meridhoi anda ?
Seorang anak saja, apabila dia telah mendapatkan restu dan ridho dari kedua orangtuanya, anak tersebut akan memiliki ketenangan dan penuh suka cita didalam melangkah, apakah lagi ini yang didapatkan adalah keridhoan dari Ilahi, Tuhan yang menciptakan seluruh makhluk, yang berkuasa atas segala sesuatu ?
Jika Allah ridho kepada kita, maka percayalah Allah akan membatalkan dan mengalahkan musuh-musuh kita. Maka dari itu berkepribadian Kaffah-lah didalam Islam, berimanlah secara tulus dan penuh kesucian akidah.
Dalam kajian lintas kitab, kita akan mendapati fatwa dari 'Isa al-Masih kepada para sahabatnya mengenai kekuatan Iman :
Mt 17:19-20 Jesus said to them: Because of your unbelief. For, amen I say to you, if you have faith as a grain of mustard seed, you shall say to this mountain, Remove from hence hither, and it shall remove; and nothing shall be impossible to you. But this kind is not cast out but by prayer and fasting. (Bible Douay)
Mt 21:21-22 And Jesus answering, said to them: Amen, I say to you, if you shall have faith, and stagger not, not only this of the fig tree shall you do, but also if you shall say to this mountain, Take up and cast thyself into the sea, it shall be done. And in all things whatsoever you shall ask in prayer, believing, you shall receive. (Bible Douay)
al-Qur'an pun memberikan gambaran :
2:187. And when MY servants ask thee about ME, say `I am near. I answer the prayer of the supplicant when he prays to ME. So they should hearken to ME and believe in ME that they may follow the right way.
Kita lihat, Allah akan mendengar doa kita, Dia akan memberikan Rahmat-Nya kepada kita dengan syarat bahwa terlebih dahulu kita harus mendengarkan dan percaya kepada-Nya, mendengar dalam artian mentaati seluruh perintah yang telah diberikan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya, khususnya kepada baginda Rasul Muhammad Saw.
Tidak perlu anda mendatangi tempat-tempat keramat untuk melakukan tapa-semedi, berpuasa sekian hari atau sekian malam lamanya dengan berpantang makan ini dan makan itu atau juga menyimpan, menggantung jimat sebagai penolak bala, pemanis muka, atau sebagai aji wibawa.
Ambillah al-Qur'an, bacalah dan pelajarilah, amalkan isinya ... maka dia akan menjadi satu jimat yang sangat besar sekali yang mampu membawa anda tidak hanya lepas dari derita dunia yang bersifat temporary, namun juga derita akhirat yang bersifat long and abide.
Yakinlah, bahwa sekali anda mengucapkan kalimah "Laa ilaaha illallaah" (Tiada Tuhan Selain Allah), maka patrikan didalam hati dan jiwa anda, bahwa jangankan ilmu-ilmu jahat, guna-guna, santet, Jin, Iblis apalagi manusia dengan segenap kemampuannya, Tuhan-pun tidak ada.
Kenapa demikian ?
Sebab dunia ini telah dibuat terlalu banyak memiliki Tuhan-tuhan, semua berhala-berhala yang disembah oleh manusia dengan beragam caranya itu tetap dipanggil Tuhan oleh mereka, entah itu Tuhan Trimurti, Tuhan Tritunggal, Tuhan anak, Tuhan Bapa, Tuhan Budha dan seterusnya.
Karena itu Tauhid yang murni adalah Tauhid yang benar-benar meniadakan, menafikan segala macam jenis bentuk ketuhanan yang ada, untuk kemudian disusuli dengan keberimanan, di-ikuti dengan keyakinan, mengisi kekosongan tadi dengan satu keberadaan, bahwa yang ada dan kita akui hanyalah Tuhan yang bernama Allah.
Itulah intisari dari Iman didalam Islam, intisari seluruh ajaran dan fatwa para Nabi terdahulu, dimulai dari Nuh, Ibrahim terus kepada Ismail, Ishak, Ya'kub, Musa hingga kepada 'Isa al-Masih dan berakhir pada Muhammad Saw.
Itulah senjata mereka, itulah jimat yang mereka pergunakan didalam menghadapi segala jenis kebatilan, segala macam kedurjanaan yang tidak hanya datang dari manusia namun juga datang dari syaithan yang terkutuk.
Dalam salah satu Hadits Qudsi-Nya, Allah berfirman :
"Kalimat Laa ilaaha illallaah adalah benteng pertahanan-Ku; dan barangsiapa yang memasuki benteng-Ku, maka ia aman dari siksaan-Ku."
(Riwayat Abu Na'im, Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir dari Ali bin Abu Thalib r.a.)
Nabi Muhammad Saw juga bersabda :
"Aku sungguh mengetahui akan adanya satu kalimat yang tidak seorangpun hamba bilamana mengucapkannya dengan tulus keluar dari lubuk hatinya, lalu ia meninggal, akan haram baginya api neraka. Ucapan itu adalah : Laa ilaaha illallaah."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Untuk itu, marilah sama-sama kita memulai hidup Islam yang kaffah sebagaimana yang sudah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, sekali kita bersyahadat didalam Tauhid, maka apapun yang terjadi sampai maut menjemput akan tetap Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang tiada memiliki anak dan sekutu-sekutu didalam zat maupun sifat-Nya.
Segera kita tanggalkan segala bentuk kepercayaan terhadap hal-hal yang berbau khurafat, kita ikuti puasa yang diajarkan oleh Islam, kita contoh prilaku Nabi dalam keseharian, kita turunkan berbagai rajah dan tulisan-tulisan maupun bungkusan-bungkusan hitam yang kita anggap sebagai penolak bala atau juga pemanis diri yang mungkin kita dapatkan dari para dukun, paranormal atau malah juga kyai.
Nabi Muhammad Saw bersabda :
"Barangsiapa menggantungkan jimat penangkal pada tubuhnya, maka Allah tidak akan menyempurnakan kehendaknya."
(Hadist Riwayat Abu Daud dari Uqbah bin Amir)
"Ibnu Mas'ud berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, mantera-mantera, tangkal dan guna-guna adalah syirik."
(Hadist Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
"Sa'id bin Jubir berkata: orang yang memotong atau memutuskan tangkal (jimat) dari manusia, adalah pahalanya bagaikan memerdekakan seorang budak."
(Diriwayatkan oleh Waki')
Percayalah, Allah adalah penolong kita.
"Sesuatu bahaya tidak mengenai melainkan dengan idzin Allah."
(Qs. at-Taghabun 64:11)
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah ni'mat Allah kepadamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan tangannya untuk mengganggu, lalu Allah menahan tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu; dan berbaktilah kepada Allah; hanya kepada Allah sajalah hendaknya Mu'minin berserah diri."
(Qs. al-Maaidah 5:11)
Apabila setelah kita melepaskan seluruh kebiasaan buruk tersebut kita mendapatkan musibah, bukan berarti Allah berlepas tangan pada diri kita dan bertambah mendewakan benda-benda, ilmu-ilmu yang pernah kita miliki sebelumnya. Akan tetapi Allah benar-benar ingin membersihkan kita dari segala macam kemunafikan, menyucikan akidah kita, hati dan pikiran kita sehingga benar-benar berserah diri hanya kepada-Nya semata.
"Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata: "Kami telah beriman", padahal mereka belum diuji lagi ?"
(Qs. al-Ankabut 29:2)
"Dan sebagian dari manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", tetapi manakala ia diganggu dijalan Allah, maka ia menjadikan percobaan manusia itu seperti adzab dari Allah; dan jika datang pertolongan dari Tuhan-mu, mereka berkata: "Sungguh kami telah berada bersamamu."; Padahal bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada-dada makhluk ?"
(Qs. al-Ankabut 29:10)
"Dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengetahui orang-orang yang munafik."
(Qs. al-Ankabut 29:11)
Nabi juga bersabda:
"Bilamana Allah senang kepada seseorang, senantiasa menimpakan cobaan baginya supaya didengar keluh kesahnya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Bagaimana bila sebagai satu konsekwensi dari usaha kembali kepada jalan Allah tersebut kita gugur ? Jangan khawatir, Allah telah berjanji bagi orang-orang yang sudah bertekad untuk kembali pada kebenaran :
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan."
(Qs.at-Taubah 9:20)
"Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik".
(Qs. ali Imran 3:195)
"Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar."
(Qs. an-Nisa' 4:74)
Kembali kejalan Allah adalah satu hijrah yang sangat berat, godaan dan gangguan pasti datang menerpa kita dan disanalah kita dipesankan oleh Allah untuk melakukan jihad, melakukan satu perjuangan, melibatkan diri dalam konflik peperangan baik dengan harta maupun dengan jiwa.
Dengan harta mungkin kita harus siap apabila mendadak jatuh miskin atau juga melakukan kedermawanan dengan menyokong seluruh aktifitas kegiatan Muslim demi tegaknya panji-panji Allah; berjihad dengan jiwa artinya kita harus mempersiapkan mental dan phisik dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat ketidak senangan sekelompok orang atau makhluk dengan hijrah yang telah kita lakukan ini.
Apakah anda akan heran apabila pada waktu anda masih memegang jimat anda merupakan orang yang kebal namun setelah jimat anda tanggalkan anda mendadak bisa tergores oleh satu benturan kecil ditempat tidur ? Bagaimana anda memandang keperkasaan seorang Nabi yang agung yang bahkan dalam perperanganpun bisa terluka dan juga mengalami sakit sebagaimana manusia normal ?
Percayalah, berilmu tidaknya anda, berpusaka atau tidak, bertapa maupun tidaknya anda bukan satu hal yang serius bagi Allah apabila Dia sudah menentukan kehendak-Nya kepada kita.
"Berupa apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada satupun yang bisa menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Gagah, yang Bijaksana."
(Qs. Fathir 35:2)
Apabila memang sudah waktunya bagi kita untuk mendapatkan musibah (baik itu berupa maut dan lain sebagainya) maka dia tetap datang tanpa bisa kita mundurkan atau juga kita majukan.
"Bagi tiap-tiap umat ada batas waktunya; maka apabila telah datang waktunya maka mereka tidak dapat meminta untuk diundurkan barang sesaatpun dan tidak dapat meminta agar dimajukan."
(Qs. al-A'raf 7:34)
"Masing-masing Kami tolong mereka ini dan mereka itu, sebab tidaklah pemberian Tuhanmu itu terhalang."
(Qs. al-Israa 17:20)
Seluruh Nabi dan Rasul serta para sahabat mereka telah berhasil dengan gemilang mengalahkan para musuhnya dengan hanya berpegang kepada tali Allah yang kuat, mungkin mereka dinilai gagal oleh mata manusia yang hedonis namun mereka merupakan orang-orang pilihan yang diakui atau tidak telah berada dalam urutan teratas daftar nama-nama anak manusia didalam pentas sejarah.
Dalam bacaan lintas kitab, kita akan mendapati beberapa seruan bertauhid kepada Allah semata dengan penuh pesan-pesan yang tinggi dan agung.
Ex 20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
De 4:16 supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan;
Isa 41:29 Sesungguhnya, sekaliannya mereka seperti tidak ada, perbuatan-perbuatan mereka hampa, patung-patung tuangan mereka angin dan kesia-siaan.
Dari al-Qur'an :
7: 192 Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.
Akhir kata, semoga Email ini bisa membawa manfaat kepada kita semua didalam memurnikan akidah Islam, menuju pada keridhoan Allah yang Kaffah, atas segala kesalahan yang terjadi saya meminta maaf dan semuanya semata-mata disebabkan keterbatasan saya selaku manusia. Semoga kita semua umat Islam, manakala panggilan telah tiba, Allah akan menyambut kita dengan penuh keramahan sebagaimana firman-Nya :
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan ridho dan di-ridhoi; Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
 


Hijrah Ke Madinah

Hijrah ke Madinah
Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk
membunuh Rasul Allah s.a.w., Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi
Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau
bersama Abu Bakar Ash Shiddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak
famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s.
Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri kesayangan
beliau, Sitti Fatimah r.a. dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil,
yaitu Imam Ali r.a. yang selama ini menjadi pembantu terpercaya beliau.
Imam Ali r.a. sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus:
berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak
membunuh beliau. Sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi
Muhammad s.a.w. agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada
20
pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah s.a.w.,
segera menyusul berhijrah.
Imam Ali r.a. membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah
bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah s.a.w. terdiri dari
keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali r.a. Di dalam rombongan Imam Ali r.a.
ini termasuk Sitti Fatimah r.a., Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali r.a.), Fatimah binti
Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu
Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.
Rombongan Imam Ali r.a. berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak
dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai
para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali
r.a. segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua
penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik
matahari.
Imam Ali r.a., sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau
siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap
rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu ia siap
berlawan tiap saat.
Mendengar rombongan Imam Ali r.a. berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebihlebih
karena rombongan Imam Ali r.a. berani meninggalkan Makkah secara terang-terangan di
siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali r.a. yang semacam itu
sebagai tantangan terhadap mereka.
Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk
mengejar Imam Ali r.a. dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup
atau mati. Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati
rombongan Imam Ali r.a.
Setelah Imam Ali r.a. mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera
memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya.
Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari
punggung unta. Seterusnya ia maju seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan
pedang terhunus. Rupanya Imam Ali r.a. hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh
mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.
Melihat Imam Ali r.a. mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk
perasaan: "Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu?
Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi."
Imam Ali r.a. dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia
bertanya: "Kalau aku tidak mau berbuat itu...?"
"Mau tidak mau engkau harus kembali," sahut gerombolan Qureiys dengan cepat.
Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali r.a. menghalangi usaha
mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul
Imam Ali r.a. dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman
pedang Imam Ali r.a. telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua,
sehingga pedang Imam Ali r.a. sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat
kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali r.a.
berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan
21
aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!"
Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali r.a. untuk menyarungkan
kembali pedangnya. Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Aku hendak berangkat menyusul
saudaraku, putera pamanku, Rasul Allah. Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan
kutumpahkan darahnya, cobalah maju mendekati aku!"
Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini
mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan
agresi kafir Qureiys.
Di Dhajnan, rombongan Imam Ali r.a. beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman
(ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali r.a.
Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan
harinya rombongan Imam Ali r.a. beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan.
Imam Ali r.a. sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah s.a.w.
Waktu itu Rasul Allah s.a.w. bersama Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sudah tiba dekat kota
Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan
rombongan Imam Ali r.a. Kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasul Allah s.a.w. memberitahu,
bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya
sendiri datang.
Selama dalam perjalanan itu Imam Ali r.a. tidak berkendaraan sama sekali. Ia berjalan kakitelanjang
menempuh jarak kl 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak.
Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasul
Allah s.a.w. menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu.
Ketika Nabi Muhammad s.a.w. melihat Imam Ali r.a. tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya
membengkak, beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu.
Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali r.a. Konon
sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali r.a. tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.
Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah s.a.w. dan tak
terlupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu, turunlah wahyu Ilahi yang
memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali 'Imran:195.

Putri Kesayangan Rasul

Puteri Kesayangan

Rasul Allah s.a.w. sangat mencintai puterinya ini. Sitti Fatimah Azzahra r.a. adalah puteri
bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasul Allah s.a.w. Nabi Muhammad
s.a.w. merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan yang paling
dekat disisinya selain puteri bungsunya itu.
Demikian besar rasa cinta Rasul Allah s.a.w. kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits tersebut Rasul Allah s.a.w. berkata
kepada Imam Ali r.a. demikian:
"Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah
hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan siapa yang menyenangkan dia,
ia menyenangkan aku…"
Pernyataan beliau itu bukan sekedar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya,
bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah
ummatnya.
Di kala masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan sendiri cobaan yang dialami
oleh ayah-bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan
yang dilakukan orang-orang kafir Qureiys. Ia hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu
perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwaah, keluarga yang menjadi pusat iman,
hidayah dan keutamaan. Ia menyaksikan ketangguhan dan ketegasan orang-orang mukminin
dalam perjuangan gagah berani menanggulangi komplotan-komplotan Qureiys. Suasana
19
perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sitti Fatimah Azzahra r.a. dan
memainkan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta mempersiapkan kekuatan
mental guna menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.
Setelah ibunya wafat, Sitti Fatimah Azzahra r.a. hidup bersama ayahandanya. Satu-satunya
orang yang paling dicintai. Ialah yang meringankan penderitaan Rasul Allah s.a.w. tatkala
ditinggal wafat isteri beliau, Sitti Khadijah. Pada satu hari Sitti Fatimah Azzahra r.a.
menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan
oleh orang-orang Qureys, di saat ayahandanya itu sedang sujud. Dengan hati remuk-redam
laksana disayat sembilu, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkan kepala dan tubuh
ayahandanya. Kemudian diambilnya air guna mencucinya. Ia menangis tersedu-sedu
menyaksikan kekejaman orang-orang Qureisy terhadap ayahnya.
Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad s.a.w. Guna menguatkan
hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad s.a.w., sambil membelaibelai
kepala puteri bungsunya itu, berkata: "Jangan menangis..., Allah melindungi ayahmu dan
akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya"
Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasul Allah s.a.w. menanamkan daya-juang tinggi ke
dalam jiwa Sitti Fatimah r.a., dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta
kepercayaan akan kemenangan akhir. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir
Qureiys itu senantiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi
Muhammad s:a.w. tetap melaksanakan tugas risalahnya.
Pada ketika lain lagi, Sitti Fatimah r.a. menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh penuh
dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke
punggung Rasul Allah s.a.w. itu Uqbah bin Mu'aith, Ubaiy bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.
Melihat ayahandanya berlumuran najis, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkannya dengan air
sambil menangis.
Nabi Muhammad rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qureiys ini sudah keterlaluan.
Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa kehadirat Allah s.w.t.: "Ya Allah
celakakanlah orang-orang Qureiys itu. Ya Allah, binasakanlah 'Uqbah bin Mu'aith. Ya Allah
binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf"
Masih banyak lagi pelajaran yang diperoleh Sitti Fatimah dari penderitaan ayahandanya dalam
perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya untuk
menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh cobaan. Kehidupan yang serba berat dan
keras di kemudian hari memang memerlukan mental gemblengan.

Rumah Tangga Serasi

Lahirnya Sitti Fatimah Azzahra r.a. merupakan rahmat yang dilimpahkan llahi kepada Nabi
Muhammad s.a.w. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang
akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul Allah s.a.w. Ia satu-satunya yang
menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sitti Fatimah
Azzahra r.a. dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jumadil Akhir, kurang lebih lima tahun
sebelum bi'tsah.
Sitti Fatimah Azzahra r.a. tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah
kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di kala sedang gencar-gencarnya
perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.
Dalam keadaan masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. sudah harus mengalami
penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Ia berkenalan dengan pahit getirnya
perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun ia bersama ayah
bundanya hidup menderita di dalam Syi'ib, akibat pemboikotan orang-orang kafir Qureiys
terhadap keluarga Bani Hasyim.
Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah selama di Syi'ib, datang pula pukulan batin atas diri
Sitti Fatimah Azzahra r.a., berupa wafatnya bunda tercinta, Sitti Khadijah r.a. Kabut sedih
selalu menutupi kecerahan hidup sehari-hari dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih
sayang ibu.

Ayahanda Imam Ali r.a

Ayahanda
Ayahanda Imam Ali r.a. adalah seorang pemimpin Qureisy. Ia sangat terpandang, dicintai,
dihormati dan disegani oleh penduduk Makkah. Beliau dihormati bukan semata-mata karena
kedudukannya, tetapi lebih-lebih karena budi pekertinya yang luhur, jiwanya yang besar,
kepribadiannya yang tinggi dan tindakannya yang senantiasa adil. Satu pribadi yang
mengungguli semua orang pada zamannya. Baik dalam soal kesanggupannya, kemantapannya
maupun dalam kegigihannya membela sesuatu yang diyakininya benar.
Tentang kesanggupan, kemantapan dan kegigihan Abu ThalIib dapat disaksikan dari
penampilan-penampilan beliau menghadapi orang-orang kafir Qureiys. Dengan kekuatan sendiri
ia memikul beban membela Nabi Muhammad s.a.w. dari tantangantantangan dan perlawanan
orang-orang Qureiys. Satu beban yang tak pernah dipikul oleh paman-paman serta keluarga
atau kerabat Nabi Muhammad s.a.w. yang lain. Penilaian yang semacam itu terhadap Abu
Thalib, diterima bulat oleh para sejarawan dari segala mazhab.
Abu Thalib adalah orang yang teguh berdiri membentengi Nabi Muhammad s.a.w. dari segala
bentuk rongrongan komplotan kafir Qureiys. Abu Thalib berbuat demikian didorong oleh
pandangannya yang luas, penglihatan hati dan fikirannya yang tajam, tekad serta semangatnya
yang tak terpatahkan.
Hal ini tercermin pula ketika untuk pertama kalinya Abu Thalib melihat puteranya, Imam Ali
r.a., secara diam-diam bersembahyang di belakang Rasul Allah s.a.w. Diamatinya putera yang
masih muda belia itu telah menjadi pengikut Nabi Muhammad s.a.w. Diperhatikan pula
puteranya itu tidak gelisah bersembahyang meskipun dilihat ayahnya.
Malahan Imam Ali r.a. setelah mengetahui ayahnya melihat ia bersembahyang di belakang Rasul
Allah, segera menghadap kepadanya, kemudian berkata: "Ayah, aku telah beriman kepada Allah
12
dan Rasul-Nya. Aku mempercayai dan membenarkan agama yang dibawa olehnya dan aku
bertekad hendak mengikuti jejaknya!"
Mendengar pernyataan puteranya yang terus terang tanpa dibikin-bikin, Abu Thalib berkata:
"Sudah pasti ia mengajakmu ke arah kebajikan, oleh karena itu tetaplah engkau bersama dia!"
Lain kali Abu Thalib melihat puteranya sedang berdiri di sebelah kanan Nabi Muhammad s.a.w.
yang siap menunaikan sembahyang. Dari kejauhan Abu Thalib melihat puteranya yang seorang
lagi yaitu Ja'far. Ja'far segera dipanggil, kemudian diperintahkan: "Bergabunglah engkau
menjadi sayap putera pamanmu di sebelah kiri, dan bersembahyanglah bersama dia!"
Abu Thalib seorang pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan tinggi. Ia tidak bersitegang leher
mempertahankan kebekuan zaman dan tidak menghalang-halangi hadirnya masa mendatang
yang lebih cemerlang. Kebijaksanaan yang tinggi itu tercermin benar dari wasiyat yang
diucapkannya pada detik-detik menjelang ajalnya, ditujukan kepada orang-orang Qureiys:
"…Wahai orang-orang Qureiys. Kuwasiatkan agar kalian senantiasa mengagungkan rumah itu
(Ka'bah). Sebab di sanalah tempat keridhoan Tuhan dan sekaligus juga merupakan tiang
penghidupan… Eratkanlah hubungan silaturrahmi, janganlah sekali-kali kalian putuskan.
Jauhilah perbuatan dzalim… Betapa banyaknya sudah generasi-generasi terdahulu hancur
binasa karena dzalim...!
"Wahai orang-orang Qureiys. Sambutlah dengan baik orang yang mengajak ke jalan yang benar,
dan berikanlah pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan... Sebab dua perbuatan
terpuji itu merupakan kemuliaan bagi seseorang, selagi ia masih hidup dan sesudah mati…
Hendaknya kalian selalu berkata benar dan setia menunaikan amanat…!
"Kuwasiatkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadap Muhammad. Sebab ia orang yang
paling terpercaya di kalangan Qureiys dan tidak pernah berdusta…!
"Apa yang kuwasiatkan kepada kalian, semuanya telah terhimpun padanya. Kepada kita ia
datang membawa missi yang sebenarnya dapat diterima oleh hati-sanubari, tetapi diingkari
dengan ujung lidah, hanya karena takut akan tidak disukai orang lain. Demi Allah, aku seakanakan
dapat melihat bahwa orang-orang Arab lapisan bawah, orang-orang yang hidup terluntalunta,
dan orang-orang yang lemah tidak berdaya, sudah siap menyambut baik seruannya,
membenarkan tutur-katanya, dan menjunjung tinggi missi yang di bawanya. Bersama mereka
itulah Muhammad mengarungi ancaman gelombang maut!
"Namun aku juga seolah-olah sudah melihat, bahwa orang-orang Arab akan dengan tulus hati
mengikhlaskan kecintaan mereka dan mempercayakan kepemimpinan kepadanya."
"Demi Allah, barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, ia pasti akan menemukan jalan
yang benar. Dan barang siapa yang mengikuti petunjuk serta bimbingannya, ia pasti selamat!"
"Seandainya aku masih mempunyai sisa umur, semua rong-rongan yang mengganggu dia, pasti
akan kuhentikan dan kucegah, dan ia pasti akan kuhindarkan dari tiap marabahaya yang akan
menirnpanya…"
Wasiat yang gamblang itu tidak memerlukan ulasan lagi. Dari wasiyat yang diucapkan sesaat
sebelum ajalnya datang, orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya Abu
Thalib itu, bagaimana sikapnya terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dan sejauh mana pandangan
dan fikirannya terhadap Islam.
Sikap, pandangan dan fikiran yang sangat positif itulah yang memberi kesanggupan kepadanya
untuk mencurahkan seluruh hidupnya melindungi pembawa da'wah yang mengajak manusia ke
13
jalan yang benar.
Abu Thalib bukan hanya mengenal kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., tetapi juga mengenal
pribadi beliau dengan baik. Ia paman beliau, pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanakkanak
sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang, Abu Thalib menyaksikan sendiri
bagaimana praktek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin
melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Hatinya pedih dan kesal
menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu,
yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan.
Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Qureiys serta menggagalkan
rencana-rencana jahat yang mereka tujukan terhadap Rasul Allah s.a.w. Ketika orang-orang
kafir Qureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi membendung da'wah risalah Nabi
Muhammad s.a.w., dan tidak berdaya lagi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan
perlindungan dan pembelaannya kepada Rasul Allah s.a.w., maka tokoh-tokoh mereka
mengambil keputusan: melancarkan blokade dan pemboikotan total terhadap semua orang Bani
Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib.
Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan
moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Qureiys, itu bukan soal. Yang penting, tujuan
harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan.
Blokade kafir Qureiys itu ternyata lebih mendorong orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul
Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berfihak kepada Abu Thalib. Orang-orang Bani
Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syi'ib (lembah di antara dua bukit).
Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang
ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan.
Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk mengganjel perut yang lapar.
Selama masa yang penuh derita dan sengsara itu, Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung
raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut.
Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan tawar-menawar yang diajukan oleh
orang-orang kafir Qureiys. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair. Inilah di antara
syair-syair tersebut :
"Sadarlah kalian, sadarlah,
sebelum banyak liang digali orang,
dan orang-orang tak bersalah diperlakukan sewenang-wenang.
Janganlah kalian ikuti perintah orang jahat tiada berakhlaq
untuk memutuskan tali persahabatan
dan persaudaraan dengan kita.
Demi Tuhan Penguasa Ka'bah,
Kami tak akan menyerahkan Muhammad ke dalam marabahaya
yang dirajut orang-orana penentang zaman,
sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian,
dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajam!"
Ya… benarlah. Jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran, kepercayaannya itu benarbenar
keras dan mantap. Sekeras dan semantap kepercayaan yang diwariskan kepada putera
bungsunya, Imam Ali r.a., bahkan sampai kepada anak cucu keturunan Imam Ali r.a.!
Abu Thalib bergerak membela Nabi Muhammad s.a.w. bukan disebabkan karena beliau putera
saudaranya sendiri. Abu Thalib menyingsingkan lengan baju, karena Nabi Muhammad s.a.w.
seorang yang menyerukan kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebajikan! Ia membela
14
kebenaran dan bukan membela kekerabatan. Ia menentang dan melawan saudaranya sendiri,
Abu Lahab, karena ia tahu, Abu Lahab berada di atas kebatilan.
Tentang betapa adil dan jujurnya Abu Thalib dapat pula disaksikan dari peristiwa berikut. Pada
suatu hari Rasul Allah s.a.w. memberitahukan kepada Abu Thalib, bahwa naskah pemboikotan
yang ditempelkan oleh orang-orang kafir Qureiys pada dinding Ka'bah sudah hancur di makan
rayap, sehingga tak ada lagi bagian yang tinggal selain yang bertuliskan: "Dengan Nama Allah."
Setelah mendengar keterangan Rasul Allah s.a.w., Abu Thalib segera mendatangi sejumlah
tokoh Qureiys. Kepada tokoh-tokoh kafir Qureiys itu, Abu Thalib berkata dengan lantang: "Hai
orang-orang Qureiys, putera saudaraku telah memberitahu kepadaku, bahwa naskah
pemboikotan yang kalian tulis dan kalian gantungkan pada Ka'bah, sekarang sudah hancur.
Tengoklah naskah kalian itu! Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad,
hentikanlah pemboikotan kalian terhadap kami. Tetapi jika Muhammad ternyata berdusta, ia
akan kuserahkan kepada kalian!"
Abu Thalib mengatakan semuanya itu hanya berdasarkan kepercayaan yang penuh kepada Nabi
Muhammad s.a.w. Ia sendiri belum pernah melihat bagaimana keadaan naskah yang tergantung
pada dinding Ka'bah.
Tokoh-tokoh Qureiys merasa puas dengan kesediaan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad
s.a.w., bila terbukti beliau berdusta. Mereka segera pergi menuju Ka'bah untuk menengok
naskah pemboikotan dan ternyata benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad s.a.w. Tokohtokoh
kafir Qureiys lemas, tak berdaya dan terpaksa mengumumkan penghentian pemboikotan
pada hari itu juga. Aksi komplotan mereka berakhir dengan kegagalan.
Dari peristiwa tersebut Abu Thalib memperoleh pembuktian langsung dari Allah s.w.t. tentang
benarnya kepercayaan yang selama ini dipertahankan dan dijaganya baik-baik. Pembuktian
yang didapatnya sebagai mu'jizat Rasul Allah s.a.w. itu datang dari kekuasaan Allah dan bukan
datang dari seorang famili yang harus diikuti.
Jauh sebelum kejadian di atas, orang-orang kafir Qureiys sudah berkali-kali menghimbau Abu
Thalib baik dengan bujuk rayu, maupun dengan ancaman kekerasan. Orang-orang kafir Qureiys
pernah mengancam Abu Thalib dengan kata-kata:
"Hai Abu Thalib, engkau orang yang sudah lanjut usia, terhormat dan mempunyai kedudukan
terpandang… Kami telah berkali-kali meminta kepadamu supaya engkau melarang putera
saudaramu terus menerus berda'wah, tetapi engkau tidak mau melarangnya… Kami tidak dapat
lagi menahan kesabaran mendengar orangtua kami dicerca, tuhan-tuhan kami dicela, dan
orang-orang arif kami dijelek-jelekkan... Silakan engkau pilih… Apakah engkau bersedia
mencegah Muhammad supaya tidak terus menerus menyerang kami, atau, kamilah yang akan
bertindak memerangi dia, termasuk engkau sekaligus, sampai salah satu fihak binasa…"
Mendengar ancaman itu, Abu Thalib bukannya menjadi mundur dalam membela kebenaran Nabi
Muhammad s.a.w., malahan justru bertambah teguh pendiriannya, semakin tinggi semangatnya
dan merasa lebih mampu memberikan tamparan keras terhadap muka orang Qureiys yang sudah
semakin nekad. Melalui syairnya dengan tegas Abu Thalib menjawab:
"Aku tahu bahwa agama Muhammad, agama terbaik bagi segenap manusia. Demi Allah, hai
Muhammad, mereka tak akan dapat menyentuhmu, sebelum aku terkapar berkalang tanah."
Pada suatu hari Abu Thalib sedang duduk santai di rumah. Tiba-tiba datang Rasul Allah s.a.w.
kelihatan sedih dan kesal. Setelah duduk, Rasul Allah s.a.w. segera menyampaikan
persoalannya. Mendengar keterangan beliau, Abu Thalib segera mengerti, bahwa orang-orang
kafir Qureiys telah berhasil membujuk salah seorang yang berperangai jahat di kalangan
15
mereka melemparkan kotoran ternak dan gumpalan darah beku ke atas kepala Rasul Allah
s.a.w. Pelemparan itu dilakukan, di saat Nabi Muhammad s.a.w. sedang sujud bermunajat ke
hadirat Allah s.w.t.
Dengan tidak menunggu waktu lagi Abu Thalib bangkit. Dengan tangan kanan membawa pedang
terhunus dan tangan kiri menggandeng Nabi Muhammad s.a.w., ia berangkat mendatangi
gerombolan Qureiys yang telah mengganggu Nabi Muhammad s.a.w. Setiba di depan
gerombolan itu, Abu Thalib berhenti sejenak. Diperhatikannya gerak-gerik gerombolan itu.
Seorang demi seorang mereka mundur. Rupanya di luar perkiraan mereka, bahwa Nabi
Muhammad s.a.w. akan datang kembali bersama pamannya.
Abu Thalib terus berteriak kepada gerombolan itu: "Demi Allah, yang Muhammad beriman
kepada-Nya. Jika ada seorang dari kalian yang berani melawan, akan kupersingkat umurnya
dengan pedang ini!"
Setelah itu Abu Thalib dengan tangannya sendiri membersihkan tubuh Nabi Muhammd s.a.w.
dari kotoran ternak dan darah. Semua kotoran itu dikumpulkan, digenggam, lalu dilemparkan
ke wajah orang-orang Qureiys yang sedang siap hendak lari. Di hadapan Abu Thalib kelihatan
sekali kekerdilan gerombolan itu.
Dalam membela dan melindungi Rasul Allah s.a.w. dari marabahaya keteguhan Abu Thalib
dapat diandalkan benar. Keteguhannya itu tercermin juga dari syair-syair yang diucapkannya
sendiri:
Janganlah kalian sulut api pengobar perang,
Yang akibat-pahitnya akan ditelan semua orang!
Demi Allah, Muhammad tak nanti 'kan kuserahkan
Kepada tangan pencetus bencana mengerikan.
Kenalkah kalian siapa Hasyim,
Ksatria yang pernah berpesan,
Agar kami berani berperang dengan semangat jantan?
Kami bukan pejuang-pejuang yang jemu perang,
Tak'kan kami sesali yang gugur di medan juang!
Kubela Rasul, utusan Penguasa Maha Kuasa,
Pembawa amanat berkilauan laksana kilat bercahaya,
Kubela dan kulindungi utusan Tuhan Ilahi,
Karena ia manusia kesayanganku sendiri,
Kulindungi ia dari serangan musuh-musuhnya,
Laksana gadis kulindungi dari gangguan pria!
Hai Abu Ya'la,
Teguh dan sabarlah dalam agama Muhammad,
Nyatakan dirimu terang-terangan sebagai muslim yang mantap,
Bulatkan tekad mendampingi pembawa kebenaran Tuhan,
Betapa riang hatiku mendengar engkau beriman,
Janganlah engkau menjadi kafir tidak bertuhan,
Jadikan dirimu pembela Rasul dan pembela Tuhan,
Tunjukkan agamamu di mata Qureiys terang-terangan,
Katakanlah: Muhammad bukan si tukang sihir!
Datukanda
Pada waktu jemaah haji berjubel tiap tahun di sekitar sumur Zamzam, tentu mereka teringat
kepada nama seorang terhormat yang dikagumi rakyatnya. Nama seorang yang dengan tangan
dan keringat sendiri menggali sumur itu hingga airnya memancar, setelah sekian abad lamanya
tertutup. Sumur Zamzam tak dapat dipisahkan dari nama Abdul Mutthalib.
16
Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong
suara orang berseru: "Galilah Thaibah!" Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil
mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi.
"Galilah barrah!".
Abdul Mutthalib terbangun. Ia masih tak dapat memahami apa yang harus dilakukan. Pada
malam ketiga, sekali lagi ia mendengar suara itu di dalam mimpi: "Galilah Zamzam!" Abdul
Mutthalib bertanya: "Apakah arti Zamzam?" orang yang berseru itu menjelaskan: "Ia tidak
kunjung kering dan tak berkurang airnya, sanggup memberi minum kepada jemaah haji betapa
pun besar jumlahnya!" Kemudian ditunjukkan tempatnya.
Pagi-pagi buta, dengan disertai puteranya, Al Harits, ia berangkat menuju letak sumur yang
ditunjuk dalam mimpi. Bersama puteranya ia bekerja menggali. Tak lama kemudian memancar
air dari sumber yang abadi. Sebenarnya tempat itu dahulunya merupakan sumur. Hanya dalam
kurun waktu yang panjang telah tertimbun oleh batu-batu besar dan pasir. Dahulu kala sumur
itu merupakan kurnia Allah s.w.t. kepada Nabi Isma'il a.s. bersama bundanya.
Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) adalah seorang yang mempunyai type cemerlang.
Sukar ditemukan bandingannya. Keharuman namanya menjadi buah bibir orang di segenap
penjuru gurun sahara Semenanjung Arabia. Karena banyak pekerjaan terpuji yang
dilakukannya, sehingga ia disebut dengan nama panggilan "Syaibatul Hamd". Bahkan banyak
yang menyebutnya sebagai "Pemberi makan manusia di dataran dan pengumpan margasatwa di
pegunungan!"
Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini
tercermin dengan jelas, tatkala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar biasa
besarnya guna menghancurkan Ka'bah. Setelah Abdul Mutthalib mengetahui bahwa kaumnya
tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi
mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan kota Makkah sebagai kota kosong. Anak
dan isteri serta hak miliknya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka'bah
diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu.
Pada suatu hari, Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh
Abrahah tentang maksud kedatangannya, Abdul Mutthalib dengan tegas menjawab: "Aku datang
kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil."
Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak
memikirkan Ka'bah yang akan dihancurkannya itu, tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja.
Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu, Abdul Mutthalib dengan jelas mengatakan,
bahwa unta-unta yang kalian ambil adalah milikku, sedang Ka'bah yang hendak dihancurkan itu
mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi keselamatannya.
Itulah pendirian seorang yang benar-benar berketuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah
gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh perasaan
halus yang tersembunyi, yang mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan
Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Kuasa.
Kemurnian iman Abdul Mutthalib tampak jelas sekali. Walaupun ia tahu, bahwa di sekitar
Ka'bah bercokol 300 buah lebih berhala, tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta
pertolongan guna menyelamatkan Ka'bah. Ia tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat
dan tidak pula kepada si Uzza! Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu
dengan Ka'bah, Abdul Mutthalib sama sekali tidak sudi meminta sesuatu kepada patung
sembahan jahiliyah itu!
17
Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah, tunduk dan khusuk kepada-Nya, serta hanya mau
berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh
perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya: "Ya Tuhan, tiap orang
mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu!" Alangkah sederhana
dan mantapnya doa seperti itu.
Doa Abdul Mutthalib ternyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan
dialami oleh balatentara Abrahah. Dengan suatu "pasukan" yang paling lemah berupa burungburung
Ababil, Allah s.w.t. menghancurkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di
kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah.
Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan.
Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama
sekali tak berdaya, melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Maha Kuasa,
Tuhan yang senantiasa berada di belakang setiap gerak dan perbuatan. Abdul Mutthalib yakin,
sesuatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang ada pada manusia akan
ditentukan persoalannya oleh Dia sendiri Yang Maha Kuasa. Sungguh, suatu kepasrahan yang
sangat polos, indah dan murni.
Melalui Abdul Mutthalib Allah s.w.t. melimpahkan kemudahan dan keberkahan kepada
penduduk Makkah. Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak
setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan
dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib.
Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah puncak bukit. Di
puncak bukit itulah dengan khusyu' Abdul Mutthalib berdoa: "Ya Tuhan, mereka itu adalah
hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu
jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah,
menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan."
Iman Abdul Mutthalib kelihatannya memang lain dari yang yang lain. Iman seorang yang hidup
di masa penyembahan berhala masih menjadi agama peribadatan di mana-mana. Namun Abdul
Mutthalib mengenal Allah melalui setiap nikmat yang terlimpah kepadanya dan dari tiap
langkah yang berhasil ditempuhnya.
Ketika ia mendengar kelahiran cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., segera diemban dan dibawa
masuk ke dalam Ka'bah. Disana ia memanjatkan puji syukur dalam bentuk syair:
"Puji syukur bagi Allah yang mengaruniakan kepadaku,
seorang anak yang baik susunan bentuknya ini,
selagi dalam buaian ia mengungguli anak yang lain.
Ia kulindungkan pada Tuhan Maha Perkasa
sampai kusaksikan masa dewasanya."
Abdul Mutthalib ditunjukkan oleh penglihatan batinnya sendiri, sehingga dapat mengetahui
bahwa anak yang baru lahir itu akan memainkan peranan besar di kemudian hari. Oleh karena
itu ia mencintai Nabi Muhammad s.a.w. melebihi kecintaan yang diberikannya kepada
siapapun.
Tiap kali Abdul Mutthalib bertemu dengan Abu Thalib, tangan puteranya itu selalu ditarik,
kemudian dilekatkan pada tangan cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., sambil berkata: "Hai Abu
Thalib, di kemudian hari anak ini akan mempunyai kedudukan, oleh karena itu jagalah dia baikbaik.
Jangan kaubiarkan ada sesuatu yang tidak baik menyentuhnya!"
Amanat ayahnya dipenuhi dengan baik oleh Abu Thalib. Ia jaga dan pelihara putera saudaranya
itu sebagaimana mestinya. Ia mengasuh anak itu sesuai dengan kematangan berfikirnya,
18
ketinggian martabat keturunannya dan kebesaran sifat keutamaannya.
Abdul Mutthalib adalah datukanda Nabi Muhammd s.a.w., juga datukanda Imam Ali r.a.
Setelah keluarga besar itu ditinggal wafat oleh Abdul Mutthalib dan Abu Thalib, Imam Ali r.a.
sebagai cucu Abdul Mutthalib dan putera Abu Thalib mewarisi budi pekerti luhur dan kebesaran
jiwa yang sukar ditemukan bandingannya. Ia benar-benar mewarisi dua hal sekaligus: akhlaq
utama dan darah mulia.

Ibunda Imam Ali r.a

Ibunda
Nama lengkap ibunda Imam Ali r.a. ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin
Qushaiy bin Kilab. Fatimah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama
bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Ia termasuk yang paling dini memeluk
agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad
s.a.w. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya
dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri.
Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, Nabi Muhammad s.a.w. bersembahyang untuk
jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi Muhammad s.a.w. turun sendiri ke liang lahad dan
setelah jenazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping
jenazahnya.
Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-heranan bertanya: "Ya Rasul Allah,
kami tidak pernah melihat anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!"
"Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia", jawab Nabi Muhammad s.a.w.
dengan segera. "Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku
berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan tekanan kubur."

Lingkungan Keluarga Imam Ali.r.a

Pemimpin, yang riwayatnya kita bicarakan ini berasal dari lingkungan keluarga terkemuka
qabilah Qureiys, yaitu Abul Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi
Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Ayah Imam Ali r.a., yakni Abu Thalib, adalah saudara kandung
Abdullah bin Abdul Mutthalib, ayah Nabi Muhammad s.a.w. Jadi, Nabi Muhammad s.a.w. dan
Imam Ali r.a. sama-sama berasal dari satu tulang sulbi seorang datuk: Abdul Mutthalib bin
Hasyim. Jelasnya, baik Rasul Allah s.a.w. maupun Imam Ali r.a., dua-duanya termasuk keluarga
Bani Abdul Mutthalib. Atau jika ditarik lebih ke atas lagi, dua-duanya termasuk keluarga Bani
Hasyim. Dalam sejarah sebutan "keluarga Bani Hasyim" lebih populer dibanding dengan sebutan
"Bani Abdul Mutthalib".
Hingga akhir hayatnya, Abdul Mutthalib merupakan pimpinan tertinggi qabilah Qureiys di
Makkah. Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menggantikan kedudukan ayahnya sebagai
pemimpin Qureiys dan kepala kota Makkah. Abu Thalib juga merangkap sebagai pemimpin
terkemuka Bani Hasyim.
Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang putera. Tiga di antaranya ialah Abbas, Abu Thalib dan
Abdullah. Nabi Muhammad s.a.w., manusia termulia di dunia, adalah putera Abdullah bin Abdul
Mutthalib. Ia menjadi mundzir (juru ingat) bagi segenap
ummat manusia. Sedang Imam Ali r.a., seorang pemimpin kaum muslimin yang tiada taranya,
adalah putera Abu Thalib bin Abdul Mutthalib. Ia jadi penuntun kaum muslimin sedunia.
Imam Ali r.a. mempunyai 3 orang saudara lelaki, yaitu Ja'far, 'Aqil dan Thalib. Di suatu medan
pertempuran di Tabuk, Ja'far gugur sebagai pahlawan dalam perjuangan membela Nabi
Muhammad s.a.w. dan Islam. 'Aqil dikurniai usia panjang hingga sempat mengalami zaman
kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedang Thalib, anak sulung Abu Thalib, wafat mendahului
saudara-saudaranya.

Masa Remaja Imam Ali.r.a

Masa Remaja
Dari sejarah hidupnya, sejak usia kanak-kanak langsung menerima asuhan Rasul Allah s.a.w.,
tidak ada keraguan lagi, bahwa Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling dini menerima
hidayah Ilahi, paling dulu beriman dan bersujud kepada-Nya. Para peneliti buku-buku riwayat
akan menemukan kenyataan tersebut dan dapat mengetahuinya dengan jelas.
Dalam masa remaja, Imam Ali r.a. sudah aktif membantu da'wah Rasul Allah s.a.w. Menurut
Abdullah bin Abbas, Imam Ali r.a. sendiri pernah menceritakan tentang hal itu sebagai berikut:
"Setelah turun ayat 214 Surah Asy Syura (perintah Allah kepada Rasul-Nya supaya
memperingatkan kaum kerabat yang terdekat), beliau memanggil aku. Kemudian berkata: "Hai
Ali, Allah telah memerintahkan supaya aku memberi peringatan kepada kaum kerabatku yang
terdekat. Aku merasa agak sedih, sebab aku tahu, jika aku berseru kepada mereka
melaksanakan perintah itu, aku akan mengalami sesuatu yang tidak kusukai. Oleh karena itu
aku diam saja sampai datanglah Jibril yang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, jika engkau
tidak berbuat seperti yang diperintahkan kepadamu, Tuhan akan menjatuhkan adzab
kepadamu." Oleh karena itu, hai Ali, buatlah makanan. Masaklah paha kambing dan sediakan
untuk kita susu sewadah besar. Setelah itu kumpulkan keluarga Bani Abdul Mutthalib. Mereka
hendak kuajak bicara dan akan kusampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku."
"Semua yang diperintahkan beliau kepadaku, kukerjakan segera. Kemudian anggota-anggota
keluarga Bani Abdul Muttalib kuundang supaya hadir. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih 40
orang. Di antara mereka itu terdapat para paman Rasul Allah s.a.w., seperti Abu Thalib,
Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah semuanya berkumpul, Rasul Allah s.a.w. memanggilku
dan memerintahkan supaya makanan segera dihidangkan. Hidangan itu kusajikan. Rasul Allah
s.a.w. mengambil sepotong daging, lalu diletakkan kembali pada tepi baki. Beliau
mempersilakan mereka mulai menikmati hidangan: 'Silakan kalian makan, Bismillah!' Mereka
10
semua makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Demi Allah, mereka masing-masing makan
dan minum sebanyak yang kuhidangkan."
"Ketika Rasul Allah s.a.w. hendak mulai berbicara beliau didahului oleh Abu Lahab. Abu Lahab
berkata kepada hadirin dengan sinis: "Kalian benar-benar sudah disihir oleh saudara kalian!"
"Karena ucapan Abu Lahab semua yang hadir pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya aku
diperintahkan lagi oleh Rasul Allah s.a.w. supaya mempersiapkan segala sesuatunya seperti
kemarin. Setelah semua makan minum secukupnya, Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada
mereka: "Hai Bani Abdul Mutthalib. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ada seorang
pemuda dari kalangan orang Arab, yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih
mulia daripada yang kubawa kepada kalian. Untuk kalian aku membawa kebajikan dunia dan
akhirat. Allah memerintahkan aku supaya mengajak kalian ke arah itu. Sekarang, siapakah di
antara kalian yang mau membantuku dalam persoalan itu dan bersedia menjadi saudaraku,
penerima wasiatku dan khalifahku?"
"Semua yang hadir bungkam. Hanya aku sendiri yang menjawab: "Aku !" Waktu itu aku seorang
yang paling muda usianya dan masih hijau. Kukatakan lagi: "Ya, Rasul Allah, akulah yang
menjadi pembantumu!" Beliau mengulangi ucapannya dan aku pun mengulangi kembali
pernyataanku. Rasul Allah s.a.w. kemudian memegang tengkukku, seraya berseru kepada
semua yang hadir: "Inilah saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku atas kalian!" Semua
yang hadir berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkata hampir serentak kepada Abu
Thalib: "Hai Abu Thalib! Dia (yakni Muhammad) menyuruhmu supaya taat kepada anakmu!"
Hadits yang senada dengan apa yang dikemukakan Abdullah bin Abbas, juga diriwayatkan oleh
Abu Ja'far At Thabary dalam bukunya "At Tarikh".
Itulah sekelumit riwayat tentang seorang muda remaja yang kemudian hari bakal menjadi
pemimpin ummat Islam. Seorang pemimpin yang dihormati tidak saja oleh kaum muslimin,
tetapi juga oleh para ahludz dzimmah, yaitu kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang bersedia
hidup damai di bawah pemerintahan Islam.
Di depan Abu Lahab, orang yang selama ini selalu mengancam-ancam dan menuntut supaya
Rasul Allah s.a.w. menghentikan da'wahnya, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu berani
menyatakan dukungan dan bantuannya kepada Nabi Muhammad s.a.w.