Di bawah Naungan Wahyu
Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 6 tahun, Makkah dan sekitarnya dilanda paceklik hebat.
Sebagai akibatnya, kebutuhan pangan sehari-hari sulit diperoleh. Bagi mereka yang berkeluarga
besar dan ekonomi lemah, seperti keluarga Abu Thalib, pukulan paceklik terasa parah sekali.
Pada masa paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. telah berumah tangga dengan Sitti Khadijah
binti Khuwalid r.a. Beliau tak dapat melupakan budi pamannya yang telah memelihara dan
mengasuh beliau sejak kecil hingga dewasa. Bertahun-tahun beliau hidup di tengah-tengah
keluarga Abu Thalib, mengikuti suka-dukanya dan mengetahui sendiri bagaimana keadaan
penghidupannya.
Dalam suasana paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. menyadari betapa beratnya beban yang
dipikul pamannya, Abu Thalib, yang sudah lanjut usia. Hati beliau terketuk dan segera
mengambil langkah untuk meringankan beban pamannya.
Nabi Muhammad s.a.w. mengetahui, bahwa Abbas bin Abdul Mutthalib, juga paman beliau,
adalah seorang terkaya di kalangan Bani Hasyim. Dibanding dengan saudara-saudaranya, Abbas
mempunyai kemampuan ekonomis yang lebih baik. Dengan tujuan untuk meringankan beban
Abu Thalib, beliau temui Abbas bin Abdul Mutthalib. Kepada pamannya itu beliau kemukakan
betapa berat derita yang ditanggung Abu Thalib sebagai akibat paceklik. Kemudian, dalam
bentuk pertanyaan, Nabi Muhammad s.a.w berkata: "Bagaimana paman, kalau kita sekarang ini
meringankan bebannya? Kusarankan agar paman mengambil salah seorang anaknya. Aku pun
akan mengambil seorang."
Abbas bin Abdul Mutthalib menyambut baik saran Nabi Muhammad s.a.w. Setetah melalui
perundingan dengan Abu Thalib, akhirnya terdapat kesepakatan: Ja'far bin Abi Thalib
diserahkan kepada Abbas, sedang Ali bin Abi Thalib r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w.
8
Sejak itu Imam Ali r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan isteri beliau, Sitti Khadijah binti
Khuwailid r.a. Bagi Imam Ali r.a. sendiri lingkungan keluarga yang baru ini, bukan merupakan
lingkungan asing. Sebab Nabi Muhammad sendiri dalam masa yang panjang pernah hidup di
tengah-tengah keluarga Abu Thalib. Malahan yang menikahkan Nabi Muhammad s.a.w. dengan
Sitti Khadijah binti Khuwalid r.a., juga Abu Thalib.
Bagi Nabi Muhammad s.a.w., Imam Ali r.a. bukan hanya sekedar saudara misan, malahan dalam
pergaulan sudah merupakan saudara kandung. Lebih-lebih setelah dua orang putera lelaki
beliau, Al Qasim dan Abdullah, meninggal. Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan
kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan
Abu Thalib kepada beliau. Bahkan pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad s.a.w.
sering mengajak Imam Ali r.a. menyepi di gua Hira, yang terletak dekat kota Mekkah. Ada
kalanya Imam Ali r.a. diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan
dan kebesaran ciptaan Allah s.w.t.
Sejak usia muda Imam Ali r.a. sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu
Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa.
Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasul Allah s.a.w. dalam
kehidupannya.
Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Imam Ali r.a.
dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam
kehidupan Imam Ali r.a. adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad s.a.w.
menerima wahyu pertama dari Allah s.w.t. Imam Ali r.a. mendapat kesempatan yang paling
baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang
dipersiapkan Allah s.w.t. untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu.
Imam Ali r.a. menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah
s.w.t dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah
ketika itu. Imam Ali r.a. menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan
jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata
kepala sendiri Imam Ali r.a. menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan fikiran Nabi
Muhammad s.a.w.
Semua warisan yang telah diterima Imam Ali r.a. dari para orangtuanya, kini berkembang
mekar di hadapan seorang maha guru yang cakap dan bijaksana, yaitu putera pamannya
sendiri. Manusia terbesar di dunia itulah yang menghubungkan diri Imam Ali r.a. dengan Allah
s.w.t.
Rabu, 19 September 2012
Dibawah Naungan Wahyu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar