Rabu, 19 September 2012

Masa Remaja Imam Ali.r.a

Masa Remaja
Dari sejarah hidupnya, sejak usia kanak-kanak langsung menerima asuhan Rasul Allah s.a.w.,
tidak ada keraguan lagi, bahwa Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling dini menerima
hidayah Ilahi, paling dulu beriman dan bersujud kepada-Nya. Para peneliti buku-buku riwayat
akan menemukan kenyataan tersebut dan dapat mengetahuinya dengan jelas.
Dalam masa remaja, Imam Ali r.a. sudah aktif membantu da'wah Rasul Allah s.a.w. Menurut
Abdullah bin Abbas, Imam Ali r.a. sendiri pernah menceritakan tentang hal itu sebagai berikut:
"Setelah turun ayat 214 Surah Asy Syura (perintah Allah kepada Rasul-Nya supaya
memperingatkan kaum kerabat yang terdekat), beliau memanggil aku. Kemudian berkata: "Hai
Ali, Allah telah memerintahkan supaya aku memberi peringatan kepada kaum kerabatku yang
terdekat. Aku merasa agak sedih, sebab aku tahu, jika aku berseru kepada mereka
melaksanakan perintah itu, aku akan mengalami sesuatu yang tidak kusukai. Oleh karena itu
aku diam saja sampai datanglah Jibril yang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, jika engkau
tidak berbuat seperti yang diperintahkan kepadamu, Tuhan akan menjatuhkan adzab
kepadamu." Oleh karena itu, hai Ali, buatlah makanan. Masaklah paha kambing dan sediakan
untuk kita susu sewadah besar. Setelah itu kumpulkan keluarga Bani Abdul Mutthalib. Mereka
hendak kuajak bicara dan akan kusampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku."
"Semua yang diperintahkan beliau kepadaku, kukerjakan segera. Kemudian anggota-anggota
keluarga Bani Abdul Muttalib kuundang supaya hadir. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih 40
orang. Di antara mereka itu terdapat para paman Rasul Allah s.a.w., seperti Abu Thalib,
Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah semuanya berkumpul, Rasul Allah s.a.w. memanggilku
dan memerintahkan supaya makanan segera dihidangkan. Hidangan itu kusajikan. Rasul Allah
s.a.w. mengambil sepotong daging, lalu diletakkan kembali pada tepi baki. Beliau
mempersilakan mereka mulai menikmati hidangan: 'Silakan kalian makan, Bismillah!' Mereka
10
semua makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Demi Allah, mereka masing-masing makan
dan minum sebanyak yang kuhidangkan."
"Ketika Rasul Allah s.a.w. hendak mulai berbicara beliau didahului oleh Abu Lahab. Abu Lahab
berkata kepada hadirin dengan sinis: "Kalian benar-benar sudah disihir oleh saudara kalian!"
"Karena ucapan Abu Lahab semua yang hadir pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya aku
diperintahkan lagi oleh Rasul Allah s.a.w. supaya mempersiapkan segala sesuatunya seperti
kemarin. Setelah semua makan minum secukupnya, Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada
mereka: "Hai Bani Abdul Mutthalib. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ada seorang
pemuda dari kalangan orang Arab, yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih
mulia daripada yang kubawa kepada kalian. Untuk kalian aku membawa kebajikan dunia dan
akhirat. Allah memerintahkan aku supaya mengajak kalian ke arah itu. Sekarang, siapakah di
antara kalian yang mau membantuku dalam persoalan itu dan bersedia menjadi saudaraku,
penerima wasiatku dan khalifahku?"
"Semua yang hadir bungkam. Hanya aku sendiri yang menjawab: "Aku !" Waktu itu aku seorang
yang paling muda usianya dan masih hijau. Kukatakan lagi: "Ya, Rasul Allah, akulah yang
menjadi pembantumu!" Beliau mengulangi ucapannya dan aku pun mengulangi kembali
pernyataanku. Rasul Allah s.a.w. kemudian memegang tengkukku, seraya berseru kepada
semua yang hadir: "Inilah saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku atas kalian!" Semua
yang hadir berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkata hampir serentak kepada Abu
Thalib: "Hai Abu Thalib! Dia (yakni Muhammad) menyuruhmu supaya taat kepada anakmu!"
Hadits yang senada dengan apa yang dikemukakan Abdullah bin Abbas, juga diriwayatkan oleh
Abu Ja'far At Thabary dalam bukunya "At Tarikh".
Itulah sekelumit riwayat tentang seorang muda remaja yang kemudian hari bakal menjadi
pemimpin ummat Islam. Seorang pemimpin yang dihormati tidak saja oleh kaum muslimin,
tetapi juga oleh para ahludz dzimmah, yaitu kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang bersedia
hidup damai di bawah pemerintahan Islam.
Di depan Abu Lahab, orang yang selama ini selalu mengancam-ancam dan menuntut supaya
Rasul Allah s.a.w. menghentikan da'wahnya, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu berani
menyatakan dukungan dan bantuannya kepada Nabi Muhammad s.a.w.

0 komentar:

Posting Komentar